Solo Selalu Ngangeni

Image

Kalau ditanya orang asal saya dari mana, saya pasti menjawab dari Solo, walaupun sebenarnya saya kelahiran Karanganyar, kira-kira 13 kilo dari Solo. Temen saya yang orang Malang bilang, itu sudah bukan Solo, tapi Solo coret rek. Tapi dari situlah semuanya berawal.

Hingga SMA saya termasuk pemabuk (ups…). Maksudnya bukan mabuk miras atau ciu yang katanya pabriknya nggak jauh dari Solo, tapi mabuk kendaraan. Naik bus merupakan siksaan bagi saya. Lulus SMA pada 1997 saya diterima kuliah di UNS, dan itu memaksa saya untuk jadi commuter, nglajo dengan bus dari kampus ke rumah. Ala bisa karena biasa. Lama kelamaan terbiasa ke mana-mana naik bus, ditambah lagi temen-temen kuliah juga banyak yang naik bus, beda dengan sekarang yang rata-rata naik motor bahkan mobil. Selama menjadi penglajo, setiap hari memberi cerita berbeda. Awal-awal kuliah merupakan masa dimulainya krisis ekonomi. Suatu siang setelah kuliah berakhir, rasa hati ingin main ke kost temen dulu. Namun, ada dorongan kuat yang menyuruh saya untuk segera pulang. Seperti biasa saya nunggu bus di depan kampus. Tidak ada yang aneh pada pukul 1 siang itu. Lalu lintas berjalan seperti biasa. Orang-orang beraktivitas seperti biasa. Datanglah bus yang mengantar saya pulang. Sorenya, baru saya tahu kalau di Solo terjadi kerusuhan besar-besaran. Ya, kerusuhan Mei 1998. Tak mengira peristiwa itu terjadi di Solo. Bagaimana tidak, orang Solo terkenal sebagai orang yang ramah dan lemah lembut, tapi hari itu wajah garang dan bengislah yang saya lihat di kota ini. Sedih rasanya melihat Solo luluh lantak seperti itu.

Saya yang awalnya cuma naik bus dari rumah ke kampus dan dari kampus ke rumah, selanjutnya mulai menjelajah kota. Tidak cuma sekali kesasar, salah naik bus, atau bingung dengan jalan di Solo. Pernah juga pulang kemaleman sehingga nggak dapat bus. Untunglah masih ada angkot. Boleh dikata hampir semua jurusan bus di Solo pernah saya coba. Jadi tahu ke mana naik bus apa, berhenti di mana. Mungkin karena sudah terlalu akrab dengan bus, di halte sering banget ketemu orang yang nanya jurusan. ‘Mbak kalau ke Klewer naik bus apa?’ ‘Mbak kalau dari sini ke terminal naik bus apa?’ Pernah juga ada yang nanya, ‘Mbak ongkos bus sekarang berapa?’ Aduh… apa tampang saya ini seperti kondektur… Parahnya lagi, saat naik bus PATAS AC jurusan Surabaya-Jogja, diam-diam kondektur mendekati saya. Tentunya saya segera ambil uang buat bayar dong. Eh, taunya sambil berbisik, dia nanya, “Mbak rumah sakit Panti Waluyo tu sebelah mana ya?” “Ha??” bengong sejenak. Ya elah pak… masak nanya saya sih.

Ada satu pengalaman yang saya ingat, tentunya masih berkaitan dengan bus. Suatu siang, dalam perjalanan dari Palur menuju Tipes, duduk di sebelah saya seorang ibu paruh baya. Penampilannya sedikit lusuh dan wajahnya nampak lelah. Bus kemudian berhenti karena ada seorang cewek ABG yang hendak turun. Pakaiannya sedikit minim dengan dandanan yang menor untuk anak seusia itu, dan lagaknya agak genit. “Cewek kok dandanannya seperti itu. Apa orangtuanya nggak mendidiknya…” komentar ibu itu sedikit nyinyir. “Anak muda zaman sekarang, Bu…” saya menanggapi dengan sedikit malas. “Lho, bukan zamannya yang salah. Zaman akan selalu seperti itu. Manusianya yang mesti bijaksana,” timpalnya kemudian. Sesaat saya terdiam. Kata-kata ibu tadi membuat saya merenung. Ah, sering kali kita memang menyalahkan zaman. Seolah zamanlah yang menentukan takdir manusia. Zaman akan terus bergerak. Apa yang dulu dianggap tabu, kini mungkin tidak lagi. Apa yang dulu masih misteri, kini menjadi hal yang lumrah. Peristiwa yang terjadi di salah satu belahan bumi dapat segera diketahui oleh orang-orang yang tinggal di belahan bumi lainnya. Namun demikian, masih ada juga yang tinggal di belantara yang seolah tak terjangkau oleh peradaban. Ada yang berubah begitu cepat, ada pula yang seolah tinggal di tempat. Bila direnungkan, tindak kejahatan yang terjadi saat ini, bukankah sudah ada sejak zaman Adam sehingga saking murkanya, Tuhan mengirimkan air bah pada zaman Nuh. Perilaku manusia masa kini, bukankah juga sudah dilakukan oleh orang-orang yang hidup berabad-abad lampau, walaupun dalam bentuk berbeda. Manusialah yang mesti bijak menyikapinya. Manusia memiliki akal budi dan hati nurani untuk mempertimbangkan apa yang baik dan buruk, mana yang benar dan salah.

Ah… Solo yang dikenal sebagai kota budaya. Semoga keadilihungan itu tetap terjaga. Semoga Ajining Diri tetap dipertahankan. Di tengah hiruk pikuk kota yang tak pernah tidur, kearifan itu ditemukan dalam diri orang-orang sederhana. Dan seperti patung Slamet Riyadi yang menjadi ikon kota ini, orang Solo memiliki tekad membaja dan kekuatan luar biasa di balik kelemahlembutannya.

Image

Hampir tiga tahun saya meninggalkan Solo. Dan Solo selalu ngangeni. Pernah selama tiga tahun saya bolak-balik Solo-Jogja. Dan alat transportasi andalan pada waktu itu adalah Prambanan Ekspres. Keberadaan dan jadwal kereta itu sangat menolong orang Solo yang bekerja atau kuliah di Jogja, begitu pula bagi mereka yang bekerja atau kuliah di Solo. Seingat saya Prameks tak pernah sepi penumpang meskipun bolak-balik Solo-Jogja hingga lima kali dalam sehari. Sayangnya, Prameks kini tak seperti dulu. Satu hal yang sering saya rindukan ketika berada di perantauan seperti sekarang adalah menunggu Prameks di Stasiun Balapan pada Minggu petang. Biasanya saya akan tiba di stasiun lebih awal supaya bisa duduk berlama-lama dan menikmati musik keroncong. Romantisme kota Solo mengalun bersama suara mendayu sang penyanyi. Di mana lagi saya menemukan suasana seperti itu selain di Solo. Dan Prameks pun membawa saya meninggalkan kota tercinta, dengan keyakinan bahwa saya akan kembali. Dari jendela kereta, mata ini seolah tak mau melewatkan setiap sudut kota. Dan seberapa jauh kaki saya melangkah, saya akan selalu kembali ke kota ini.

Image

Ket: Foto adalah dokumen pribadi

Tema: Kesan

Advertisements

About Zelod

Just a traveler and pilgrimage
This entry was posted in Kisah and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s